Tropong Desa - Portal Berita Online Teraktual & Terpercaya | Untuk Pemasangan Iklan Hubungi 081915618200

14 Hari Pasca Disomasi, RSUD Terkesan Menunggu Langkah Hukum Keluarga Pasien

Selogan Drs Abd Gani M.Pd.I: “Pasti Ada Harapan”, ini Profil-nya yang mengagumkan
Agustus 20, 2023
Sebagian Besar Warga Yang Antri Beras Mengaku Pendukung Prabowo
Februari 20, 2024

TROPONGDESA.COM, Lombok Timur – Polemik Suami Pasien yang dipaksa operasi caesar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr.R.Soedjono Selong, Kabupaten Lombok Timur (lotim), berinisial HD, asal Desa Lepak, Kecamatan Sakra Timur (sakti), Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Nusa Tenggara Barat (NTB), semakin hari, kian meruncing.

Pernyataan HD Ingin melanjutkan kasus ini, ternyata bukan sekedar gertak sambal, pasalnya saat ini sudah sampai ke tahap melayangkan somasi ke pihak RSUD. Salah satu point tuntutan didalam somasi tersebut, ia meminta pihak rumah sakit memberikan penjelasan secara tertulis berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan pasien.

“Mereka harus menjelaskan kenapa istri saya tidak di observasi ulang setelah di rujuk dari puskesmas Desa Lepak, malah waktu itu, petugas rumah sakit yang piket ngotot meminta kami untuk operasi caesar, dengan alasan kalau air ketuban istri saya sudah pecah, bahkan mereka menakut-nakuti didepan istri saya kalau lambat penanganan, air ketuban akan habis sangat beresiko untuk keselamatan istri dan anak saya” bebernya mengulang apa yang disampaikan pihak RSUD.

Terlebih lagi saat dimintai tanda tangan persetujuan, lanjut HD, pihak rumah sakit terkesan memaksa, jadi ia merasa ada yang janggal ditempat itu.

“Kalau saya tidak ngotot menolak operasi caesar waktu itu, mungkin istri saya sudah di operasi oleh pihak rumah sakit”. Tuturnya.

Lebih jauh lagi, HD menceritakan riwayat bersalin istrinya yang ke lima kali, “Semuanya melahirkan dengan normal” ungkapnya. Rekam jejak itu yang membuatnya yakin kalau istrinya bisa melahirkan dengan normal.

“Semua itu sudah saya jelaskan kepada petugas ditempat itu, tapi mereka tetap ngotot mengarahkan saya untuk tanda tangan surat persetujuan operasi dan dipasangkan selang keteter”. Bebernya.

Sikap pihak rumah sakit ini yang membuatnya nekat memutuskan untuk keluar dari rumah sakit dini hari sekitar jam 03.40 wita, kemudian membawa istrinya ke Puskesmas kecamatan Sakra tanpa membawa surat rujukan.

Al hasil pemeriksaan yang di lakukan pihak Puskesmas menunjukkan istrinya dalam kondisi air ketuban masih utuh dan belum pecah semuanya dalam kondisi normal dan baik. Bahkan tidak berselang lama, istrinya berhasil melahirkan dengan normal, dengan kondisi anak dan istrinya sehat dan selamat.

“Jadi saya yakin banyak yang mengalami hal yang sama seperti saya, itu menjadi alasan saya akan mengungkap semua praktek kotor yang dilakukan oleh pihak rumah sakit dan jangan sampai operasi Caesar dijadikan ladang bisnis” ujarnya.

Ketua IT- 99 dan rekanan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) sekaligus selaku pelapor beberapa kasus Besar di NTB ini mengancam akan mengambil langkah hukum, terlebih lagi, pihak rumah sakit sampai saat ini belum memberikan penjelasan secara tertulis mengenai apa yang di alaminya.

“Sebenarnya kasus rumah sakit ini sudah lama saya pantau, bahkan sejak satu tahun yang lalu dan kali ini tinggal saya dalami dan menambah data-data, untuk persiapan mengambil langkah-langkah selanjutnya” Ungkapnya.

Ia juga mengatakan, saat ini sudah cukup bukti ia kantongi. “Sudah banyak bukti dari pengakuan pasien saya kantongi bahkan beberapa kwitansi pembayaran, tinggal menunggu waktu saya masukkan laporan saja” Ujarnya.

Diwaktu yang berbeda, belum lama ini, Dr. Hasbi Santoso menghubungi awak media by phone, membicarakan tentang perlakukan yang di alami istri pasien asal Desa Lepak, saat itu ia berjanji akan memberikan klarifikasi secara tertulis yang akan dikirim melalui email.

“Kami akan memberikan klarifikasi secara tertulis, sesuai keinginan suami pasien dan akan kami kirim lewat email” Ujarnya.

Menyinggung berbagai persoalan tentang buruknya pelayanan di RSUD yang ia pimpin, dokter kelahiran Desa Rumbuk ini, meminta agar keluarga pasien melaporkannya agar bisa secepatnya diselesaikan.

“Kalau ada keluarga pasien mengeluhkan pelayanan di rumah sakit ini, sebaiknya segera laporkan agar bisa diselesaikan dengan cepat” Pintanya.

Lebih jauh lagi ia sampaikan, untuk pasien yang tidak mampu, dari pihak rumah sakit berhak untuk menghapus segala bentuk biaya yang dikeluarkan tampa syarat.

“Kalau ada yang mengeluh kesulitan biaya, disitu kami punya wewenang untuk menghapus segala bentuk biaya yang dikeluarkan oleh pasien yang tidak mampu” Ujarnya. (td)

Pasang Iklan